Jembatan lama Kertosono yang sempat ambles pada Februari 2018 lampau belum diperbaiki. Kendati sudah ditutup total, namun jembatan rangka baja peninggalan Belanda tersebut masih sering dimanfaatkan warga untuk aktivitas memancing. Padahal, jika terus dibebani, lama kelamaan jembatan tersebut bisa ambruk.

Kabag Humas Pemkab Nganjuk Agus Irianto menjelaskan, perbaikan infrastruktur jembatan lama Kertosono sejatinya sudah dikomunikasikan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Saat itu, dari kementerian memberikan dua opsi untuk program prioritas jalan dan jembatan.

Menurut Agus, sesuai visi misi Bupati Novi Rahman Hidayat, tahun ini perbaikan infrastruktur jalan menjadi prioritas. Oleh sebab itu, perbaikan atau pembangunan jembatan akan dilaksanakan setelah perbaikan jalan tuntas.

“Dua infrastruktur ini sama-sama penting, tapi saat ini kondisi jalan rusak lebih menjadi prioritas utama bupati,” kata Agus seperti dikutip Jawa Pos, 8 Maret 2019.

Agus menambahkan, perbaikan jalan secara keseluruhan ditargetkan selesai pada 2021.

Seiring dengan perbaikan jalan, lanjut Agus, maka ada kemungkinan jembatan lama Kertosono itu baru akan mulai dikerjakan pada 2020.

“Kami rasa tidak hanya jembatan lama Kertosono, tapi perbaikan jembatan lainnya nanti bisa bersamaan dengan perbaikan jalan,” ucapnya.

Sebab, target awal untuk perbaikan jalan bisa terselesaikan hingga 65 persen. Ketika target itu sudah tercapai, maka Pemkab Nganjuk bisa melakukan perbaikan infrastruktur jembatan dan jalan secara bersamaan.

“Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap,” lanjutnya.

Karena masih harus menunggu waktu perbaikan, Agus mengimbau agar warga tidak beraktivitas di atas jembatan rangka baja peninggalan Belanda itu. Dikhawatirkan jembatan bisa roboh sewaktu-waktu. Apalagi saat ini debit air Sungai Brantas mengalami kenaikan. Posisi jembatan yang sudah mengalami kemiringan karena ambles dan retak itu ditakutkan semakin tergerus karena tekanan air sungai yang terus membesar.

“Kami imbau warga tidak lagi beraktivitas di atas jembatan, berbahaya,” kata Agus.

Sejak jembatan tersebut ditutup, warga terpaksa menyeberang menggunakan perahu tambang. Aktivitas penyeberangan yang berada di dekat jembatan itu ramai.

Selain warga Kertosono yang memanfaatkan perahu tersebut, banyak pula warga dari Jombang. Terutama mereka yang membuka usaha di Kertosono.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Soekonjono mengatakan, debit Sungai Brantas yang mengalami masuk dalam kategori aman. Meski arus sungai semakin deras, kaki jembatan dianggap kuat menahan tekanan air.

“Tidak masalah (arus sungai Brantas deras, Red),” katanya.